“Waktu”
Apa
sih waktu???
Apakah
kita harus mengerti waktu dengan mendefinisikan waktu, saya kira tidak
usah.yang harus kita tahu adalkah bagaimana wkita bisa mengefisienkan waktu
agar bernilai ibadah dan mencari ilmu. Supaya hidup ini lebih berguna tidak
hany anongkrong di depan facebook seharian tanpa kita tahhu manafaat dan
gunanya, sekiranya kita tidak mendafaat manfaaat dan gunanya jangan diterapkan
dilakukan. Di zaman modern ini kita harus jeli untuk memanage waktu apakah kita
tahu siapa dan tujuanya apa pembuatan acoun jejearing sosial itu kita harus
tahu dulu karena sekarang adalah waktunya perang pikiran (ghozul fikri), jangan
sampai kita nongkrong di jejaring social hanya untuk uporia saja atau hanya
sekedar menghabiskan waktu.
Kita sering binggung apakah kita
sudah memanfaatkan waktu dengan baik ataukah malah kita yang di manfaatkan
waktu dan akhirnya dibunuh oleh waktu sendiri. Sebuah pepatah arab mengatak
“waktu adalah pedang” maka jika waktu di ibaratkan pedang yang tajam, dengan
ini kita harus tahu bagimana pedang itu bisa berguna dan memanfaatkan dengan
baik . jangan sampai kita yang terbunuh oleh ketajaman pedang karena
kecerobohan kita dalam mengunakanya. Dimana di zaman modern ini behavior
mengibaratkan manusia homo mecanicus (manusia robot). Tapi bukan berarti kita
mengartikannya secara harfiah manusia seperti robot, misalnya seperti ini, kita
bekerja di sebuah perusahaandan banyak mesin-mesin sebagai alat
untukmempermudah kita dan membantu kita dalam bekerja. Tapi coba kita pikir
ketika kitaberada di depan sebuah mesin otomatis, pakah kita bebas untuk
beraktifitas atau kah kita mengikuti semua intruksi-intruksi mesin yang ada di
program mesin tersebut sehingga kita tak sadar bahwa kita sedang dikendalikan
oleh mesin yang kita buat sendiri. Semakin zaman ini modern maka manusia
semakin buta akan arti kebebasan yang sesungguhnya sesuai dengan syariat.
Allah berfirman dalam al-quran, Demi
masa sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Di dalam tafsir al-azhar bahwa
janganlah mempergunakan waktu dengan salah hanya melakukan sesuatu yang kurang
berfaedah tanpa ada pangkan ujungnya itulah orang-orang yang akan mendapat
kerugian di akhirat nanti kecuali orang yang beriman dan beramal sholeh. Agar waktu itu bernilai ibadah utuk menambaak
keimanan kita supaya kita tidak termasuk orang yang rugi. Di alam bidayatul
hidayah karya imam Al-Ghozali jika Allah memberikan kita setandar usia 60 tahun
dan dalam 1 hari itu 24 jam dan kita menggunakan 8 jam hanya untuk tidur maka
sepertiga hidup kita hanya digunakan untuk tidur saja. Pakah kita tidak
merasarugi sepertiga hidup kita dipergunakn sia-sia, dan belum tentu waktu yang
sisanya kita gunakan dengan baik.
Maka
imam syafi’I membagi waktu malamnya kedalam tiga waktu waktu yang pertama intuk
belajar waktu yang kedua untuk istirahan dan waktu yang ketiga untuk beribadah.
Saya
punya sebuah cerita bagaiman orang-orang alim saking berharganya waktu untuk mencari ilmu
dlam buku keajaiban belajar.
Mungkin
tak ada yang mencintai ilmu seperti mereka ulama-ulama muslim masa silam
seperti berikut: ibnu Aqil (tahun 1136) berkata,” saya meringkas semaksimal
mungkin waktu makan. Hingga saya lebih memilih roti kering yang dicelup air
dibandingkan khubz (roti lembab), karena perbedaan waktu yang dibutuhkan untuk
mengunyahnya.” Begitu detil penghitungan waktunya. Maka tak mengherankan jika
karyaya amay banyak, jumlahnya mencapai 800 buah dari berbagai bidang ilmu.
Lain lagi dengan Syamsudin Al-Ashbani (tahun 1372). Menurut para sahabatnya, ia
banyak menolak makanan. Ini ia lakukan agar tidak banyk wakut keluar masuk
kamar mandi, yang membuat waktu belajarnya terkurangi.
Muhammad bin sahnun (tahun 879)
sehari-hari sibuk dengan membaca dan menulis hingga sampai larut malam. Tahu
majikannya sibuk, Ummu Mudaim sang pembantu menyediakan makan dan
menyilahkannya. Tetapi bin sahnun hanya bilang ,”saya sedang sibuk” hingga
tetap asyik menulis dan tidak menyentuh makanannya. Ummu mudaim berinisiatif
menyuapinya sampai makanan itu habis. Saat adzan shubuh, Bin sahnun malah
bertanya,”…mana makanan saya?” sang pembantu manjawab,” saya sudah menyuapkan
pada anda,’ sahnun hera,” saya tak merasa…”Tidak hanya menyayangkan waktu
makan, Abu yusuf ya’kub sering terlihat membaca buku saat tengah berjalan ke
tempat tujuan.
Batapa
subhanallahnya profil orang-orang besar. Jika kita ingin seprti mereka maka
ikutilah cara mereka untuk menggunakan waktu, belajar..belajar..dan belajar.
Karena inti kehidupan ini semuanya adalah belajar. Belajar untuk beribadah,
balajr utuk taat, belajar untuk ikhlas, belajar untuk tawakal belajar untuk
mempergunakan waktu dengan baik supaya tidak termasuk kepada orang-orang yang
merugi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar